Kisah Perjuangan KH Sudjono Cholil dalam Menuntut Ilmu



Penciptaan kehidupan sudah pasti bertujuan. Dalam usaha mencapai tujuan tersebut mengharuskan adanya perjuangan. Perjuangan hanya akan bermakna apabila dilandasi oleh jiwa pengabdian dan keihlasan. Pengabdian kepada keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa, hingga sampai pada puncaknya kepada Allah SWT. Inilah komitmen yang melandasi perjuangan seorang anak desa yang oleh kedua orang tuanya diberi nama Sudjono Cholil.
Lahir di desa Pekalongan, tanggal 29 Maret 1930 dari pasangan H. Cholil dengan Sudarmi. Memulai pendidikan dari Matholi'ul Falah Kajen Margoyoso Cabang Pekalongan. Teman sebayanya yang bersekolah kala itu tidak begitu banyak, itupun hasil kerja keras pamong praja yang dor to dor mencari anak dengan setengah memaksa agar mau sekolah. Sedikitnya anak-anak yang sekolah kala itu selain karena "Sadar Pendidikan" masyarakat pada umumnya masih minim, juga ditunjang persoalan ekonomi akibat penjajahan.
Setelah menyalesaikan Sifir Awal, Tsani dan Tsalis tahun 1937-1939 di Madrasah Matholi'ul Falah Kajen Cabang Pekalongan, Sudjono terus melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tarbiyatul Banin Pekalongan hingga kelas 3. Perlu dijelaskan disini, bersamaan datangnya kolonial Jepang tahun 1942 Matholi'ul Falah Kajen Cabang Pekalongan melepaskan diri dari induknya dan berdiri sendiri dengan nama Tarbiyatul Banin, dan sebagai Kepala Madrasahnya adalah Bp. Jauhar yang waktu itu menjabat Kepala KUA Kec. Winong.
Dari MI Tarbiyatul Banin kemudian melanjutkan ke Matholi'ul Falah Kajen dan berhasil diselesaikan pada tahun 1946. Sudah menjadi tradisi saat itu, alumnus suatu lembaga pendidikan apabila dipandang sudah layak untuk mengamalkan ilmunya, ada kewajiban moral untuk mendarmabaktikan tenaga dan fikirannya pada lembaga tempatnya belajar semula. Demikianlah sejarah mencatat, setamat dari Matholek Kajen -- demikian populer disebut-- Sudjono kemudian ikut mengajar di MI Tarbiyatul Banin selama 1 tahun (1947) bersama Bp. H. Ihsan,Bp. Hamim dan Bp. Suwawi (Pecangaan). Dilihat dari usianya memang masih sangat muda, namun karena panggilan nurani dan masyarakatnya, ia harus menyandang tugas sebagai Bapak Guru.
Di tengah tahun pelajaran (1947), Bp. Sudjono ditugaskan mewakili MI Tarbiyatul Banin mengikuti penataran yang diselenggarakan oleh Ma'arif Nahdlatul Ulama di Kudus. Dalam penataran itu Bp. Sudjono mendapat materi pengajaran mata pelajaran umum bagi Madrasah seperti Sejarah, Ilmu Bumi, Ilmu Hayat, bahasa Indonesia, berhitung dan lain–lain. Suatu Perkembangan pola pikir kelembagaan yang sangat “berani” untuk ukuran masa itu, di mana lembaga pendidikan yang dikelola Nahdlatul Ulama – suatu lembaga yang diidentikkan dengan tradisionalisme – mengembangkan perspektif berpikir yang melampaui batas-batas tradisinya sendiri. 
Akhir penataran tersebut Bp. Sudjono mendapat materi pengajaran mata pelajaran umum bagi madrasah di lingkungan Ma'arif, sebagaimana mata pelajaran yang diberikan di sekolah umum. Dampak pskologis dari penataran ini, dalam diri Bp. Sudjono tumbuh minat yang kuat untuk melengkapi dirinya dengan ilmu pengetahuan umum dan merasa dirinya kurang patut lagi menjalankan tugas mengajar. Pikirannya dipenuhi obsesi untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu untuk mewujudkan obsesinya itu, dilakukan dengan mencari dan berkonsultasi kepada berbagai pihak. Di antaranya ialah dengan tetap menjalin komunikasi dan silaturrahmi dengan almamaternya di Kajen Margoyoso.
Dan Alhamdulillah, jalan menuju roma nampak membentang ke sana. Adalah Bp. KH Ali Mukhtar (adik Bp. KH Abdullah Salam, Kajen) yang menasehatinya agar melanjutkan pendidikannya ke pondok Gontor Ponorogo. Meski harus melepas tugas mengajar (sebagai guru), namun karena tekad sudah bulat untuk merengkuh jejang pendidikan yang lebih tinggi, Sudjono (yang melepaskan untuk sementara predikatnya sebagai Bapak Guru) mempersiapkan segala sesuatu untuk menggapai cita-citanya. Nampaknya karena terlalu semangat, sehingga keberangkatannya ke Gontor pun tidak mempersiapkan peryaratan secara lengkap. Alhasil, karena persyaratan administrasinya kurang lengkap maka terpaksa belum bisa diterima menjadi santri pondok Gontor tahun itu.
Atas pertimbangan Muhammadun (teman sepemberangkatan dari Pati), Sudjono dianjurkan untuk mondok di PSM (Pesantren Sabilul Muttaqin) yang berada di Takeran Madiun. Bagai tiada rotan akar pun jadi, anjuran itupun diikutinya. Belum genap satu tahun terjadilah apa yang disebut "Madiun Affair" yaitu pemberontakan PKI yang dimotori oleh Muso dan Aidit (1948). Akibat peristiwa tersebut, kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun pondok pesantren di daerah Madiun dan sekitarnya dihentikan untuk waktu yang tidak ditentukan. Para siswa dan santri dipulangkan ke daerah (rumah) masing-masing.
Melihat kondisi politik nasional yang tidak mendukung untuk meneruskan pendidikan, oleh orang tuanya Sudjono dididik berwira usaha yaitu berdagang kapas dan telur dari pasar ke pasar. Disamping karena tuntutan situasi, pekerjaan itu pun dijalaninya dengan penuh kesungguhan. Baginya tidak ada pekerjaan yang hina selama masih berada pada jalur yang tidak menyalahi peraturan. Bahkan setiap pekerjaan yang dijalankan pasti membawa hikmah dan manfaat selama dilakukan dengan penuh keihlasan dan kesabaran. 
Hingga suatu ketika Bp. KH. Ali Mukhtar mengunjungi dan menanyakan apa yang dikerjakannya sepulangnya dari Madiun. Setelah mengisahkan ini dan itu, akhirnya Bp. KH. Ali Mukhtar mengajaknya untuk bergabung dengan Barisan Gerilyawan Tentara Republik Indonesia (TRI). Proses pun berkelanjutan hingga sampai ke tahap pendidikan di babalan kudus. Gemblengan fisik dan mental keprajuritan dialaminya. Namun dengan terjadinya Konferensi Meja Bundar di Deen Haagh (1949) situasi kembali aman dan kedaulatan penuh pemerintah RI kembali tegak sehingga Sudjono berkesempatan memikirkan kelanjutan pendidikannya.
Atas nasehat Bp. KH. Ali Mukhtar, Sudjono masuk SMP Muhammadiyah Kudus. Mendengar nasehat tersebut beliau sempat tertegun, betapa luasnya wawasan KH. Ali Mukhtar; Ing atase beliau dikenal sebagai tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama ternyata tidak berpikiran picik dan fanatik, yaitu dengan menyuruh muridnya belajar di lembaga penidikan yang berbeda latar belakang mazhab-nya. Tergugah hati Bp. Sudjono untuk meneladani sifat yang demikian itu.
Karena materi pelajarannya yang diajarkan di SMP Muhammadiyah Kudus masih terfokus pada materi pendidikan keagamaan, pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan itu pun berniat tidak menyelesaikannya hingga tamat. Ditambah lagi keinginannya untuk mondok di Gontor masih menyala-nyala. Maka setelah berkonsultasi serta mendapat restu dari KH. Ali Mukhtar dan kedua orang tuanya pemuda itu segera menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Berbekal tekad dan semangat yang tak kunjung padam serta persyaratan yang retlatif lebih lengkap, Sudjono pun berangkat menuju kota Reog Ponorogo.
Sesampainya di pondok modern Gontor Ponorogo pada bulan Sya'ban (sekitar akhir tahun 1950), ia langsung mengikuti tes seleksi kelas 1, 2 dan 3 dalam waktu yang bersamaan. Hasil tes ternyata cukup bagus sehingga bisa langsung diterima di kelas 4. Suatu prestasi yang tidak dimiliki semua orang. Dengan demikian tercapailah cita-citanya selama ini untuk belajar di lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sekaligus.
Pendidikan di Kulliyatul Mu'allimin Al Islamiyah, sekolah guru setingkat SGB/SGA, dijalani dengan kesugguhan dan ketekunan. Materi pendidikan dan pengajaran, filosofi kehidupan maupun “sunnah" pondok pesantren yang diajarkan oleh asatidz pondok modern di bawah asuhan Tri Murti: KRH. Ahmad Sahal, KRH. Zainuddin Fannanie dan KRH. Imam Zarkasyi diserap dengan sebaik dan semaksimal mugkin. Tradisi Pondok Gontor yang dikenal sangat ketat disiplinnya, yang oleh Emha Ainun Najib disamakan dengan disiplin "Shaolin Temple", tak dirasakan sebagai beban berat, tapi justru dianggap sebagai tempaan yang akan membentuk pribadi tangguh dan tanggap dalam menghadapi berbagai hambatan dan tantangan di medan perjuangan.
Tahun 1953 beliau berhasil menamatkan KMI dengan prestasi yang cukup membanggakan. Sebenarnya sangat ingin segera pulang ke kampung halaman untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya, namun karena terikat oleh sunnah pondok pesantren yang mewajibkan setiap alumni untuk mengajar selama 2 tahun di almamaternya, keinginan itu pun disimpan untuk sementara. Tugas mengajar yang diberikan almamaternya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sebagai perwujudan pengabdian kepada lembaga yang telah membekali ilmu dan keterampilan. 
Kesempatan ini justru dimanfaatkan dengan baik untuk lebih mendalami dan memahami filosofi maupun sunnah pondok pesantren. Sebagaimana dipahami para pihak, Pondok Modern Gontor adalah satu dari sekian lembaga pendidikan yang hingga saat ini tetap istiqamah mengembangkan filosofi pendidikan berdasarkan keihlasan, kemandirian dan keindependenan. Independen artinya secara kelembagaan maupun individual (santri, ustadz dan para kyainya) tidak memiliki keterkaitan, apalagi ketergantungan secara sosial, ekonomi maupun politik dengan lembaga di luar pondok. Bahkan terhadap lembaga-lembaga pemerintah sekalipun. 
Komunikasi dan kerja sama dengan lembaga lain tetap terjalin namun bukan karena dependensi. Filosofi kemandirian memberikan pandangan hidup kepada para santrinya untuk mampu mengaktualisasikan segenap potensi yang dimiliki dalam berkarya dan berprestasi dengan membuang jauh-jauh sifat membebani dan menyusahkan orang lain. Sedangkan filofosi keihlasan, mendidik dan mengajarkan para santri untuk senantiasa berpikir positif (husnudzan) dan melaksanakan setiap tugas dan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya -- di mana dan kapan pun -- semata-mata hanya demi mencapai ridla Allah.
Akhirnya dengan penuh rasa syukur dan bangga, serta berbekal ilmu pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan yang diperoleh selama 5 tahun ( 3 tahun sebagai santri dan 3 tahun sebagai guru bantu) di pondok Gontor, beliaupun kembali ke kampung halaman untuk mewujudkan cita-cita dan pengabdiannya kepada masyarakat.

No comments